BeritaFlores

Sebastian Anggal Resmi Terpilih sebagai Ketua DPW Serikat Petani Indonesia NTT Periode 2025 – 2030

183
×

Sebastian Anggal Resmi Terpilih sebagai Ketua DPW Serikat Petani Indonesia NTT Periode 2025 – 2030

Sebarkan artikel ini
Sebastian Anggal Resmi Terpilih sebagai Ketua DPW Serikat Petani Indonesia NTT Periode 2025 - 2030(Fajarflores/Ril Minggu)

FAJAR FLORES – Musyawarah Wilayah (Muswil) Serikat Petani Indonesia (SPI) kembali menetapkan Sebastian Anggal sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) SPI Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk periode 2025 – 2030. Penetapan ini menjadi momentum penting dalam konsolidasi gerakan petani di wilayah NTT.

Dalam wawancara bersama media Fajarflores.com, Sebastian Anggal menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya oleh DPP SPI dan DPC SPI Manggarai Raya.

“Saya bersyukur bisa dipercayakan kembali oleh DPP SPI dan DPC SPI Manggarai Raya melalui Muswil. Sebelumnya saya menjabat sebagai anggota MNP (Majelis Nasional Petani) Serikat Petani Indonesia, dan sekarang menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah SPI NTT Periode 2025–2030,”(1/12/2025) ujarnya.

Selain menetapkan kepengurusan DPW SPI NTT, Muswil juga mengukuhkan BP. Agustinus Mbadu sebagai Ketua DPC SPI Manggarai Timur. Sebastian menjelaskan bahwa Agustinus merupakan kader senior dengan pengalaman panjang dalam organisasi.

“Sedangkan Ketua DPC SPI Manggarai Timur dipegang oleh BP. Agustinus Mbadu. Selama 27 tahun bergelut di SPI, banyak dinamika yang dihadapi dan selalu berhadapan dengan masalah petani, baik Agraria maupun pangan. Hal ini merata di seluruh wilayah NTT,” ungkapnya.

Sebastian menegaskan bahwa agenda utama perjuangan SPI tetap berfokus pada Reforma Agraria dan Kedaulatan Pangan. Menurutnya, sejumlah wilayah di NTT telah menunjukan capaian konkret berkat perjuangan SPI.

“Agenda pokok perjuangan SPI adalah melaksanakan reforma agraria dan kedaulatan pangan. Beberapa wilayah sudah berhasil kita perjuangkan seperti kawasan RTK 115 Ndeki Komba, tanah masyarakat adat Mbohang, dan lainnya. Ke depannya kami terus melakukan konsolidasi petani untuk pembaharuan agraria, mengambil kembali tanah masyarakat adat yang diklaim sepihak oleh pemerintah dengan prinsip ‘tanah untuk petani’. Tentu semuanya dilakukan dengan koordinasi bersama berbagai pihak. Program lainnya adalah melaksanakan pendampingan petani dalam agroekologi,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Sebastian menyerukan pentingnya kemandirian pangan di tingkat petani.

“Saya mengajak semua petani untuk mengolah tanah demi kedaulatan pangan. Kita tanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam,” tutupnya.***