FAJAR FLORES – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh kader PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Menyikapi bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, kader partai berlambang banteng itu bergerak cepat menggalang aksi solidaritas kemanusiaan.
Dalam waktu singkat, semangat gotong royong menyebar ke seluruh struktur PDI Perjuangan di kabupaten dan kota se-NTT. Dari aksi tersebut, berhasil dihimpun dana solidaritas sebesar Rp55 juta yang siap disalurkan untuk membantu para korban bencana.
Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus Takandewa, mengatakan bantuan tersebut merupakan wujud empati kolektif keluarga besar PDI Perjuangan NTT terhadap penderitaan masyarakat di wilayah terdampak.
“Gotong royong dan solidaritas adalah nilai dasar perjuangan partai yang harus terus hidup, terlebih dalam momentum kemanusiaan seperti ini,” ujar Yunus kepada media, Jumat, 12 Desember 2025.
Ia menegaskan, dana solidaritas tersebut akan disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana (BPI-BPI) Perjuangan untuk kemudian diteruskan kepada korban bencana di Aceh dan wilayah lain di Sumatera.
“Atas nama keluarga besar PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, kami menyerahkan dompet peduli bencana Aceh dan Sumatera. Semoga saudara-saudara kita diberikan kekuatan dan daerah terdampak segera pulih,” kata Yunus.
Menurutnya, aksi kemanusiaan ini juga merupakan bentuk komitmen PDI Perjuangan NTT dalam mendukung penanganan bencana nasional serta memperkuat solidaritas antar-daerah di Indonesia.
Lebih lanjut, Yunus menjelaskan bahwa seluruh donasi yang terkumpul akan diteruskan ke rekening gotong royong DPP PDI Perjuangan untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran dan segera diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Bencana Besar di Sumatera
Sebagaimana diketahui, bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah daerah di Pulau Sumatera sejak akhir November 2025. Wilayah yang terdampak parah meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 11 Desember 2025 mencatat sebanyak 969 orang meninggal dunia, ratusan lainnya dinyatakan hilang, serta hampir satu juta warga terpaksa mengungsi akibat bencana tersebut.
Daerah dengan dampak terparah antara lain Aceh Tamiang, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Selain menelan korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur berupa ratusan ruas jalan dan puluhan jembatan, sehingga menghambat distribusi bantuan.
Bencana dipicu oleh cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang berlangsung terus-menerus, diperparah dengan kondisi hutan di wilayah hulu yang mengalami degradasi. Pemerintah pusat saat ini tengah mempercepat proses tanggap darurat dan pemulihan, bahkan Pemerintah Provinsi Aceh telah mengajukan permintaan bantuan internasional untuk menangani krisis kemanusiaan tersebut.***












