BeritaFlores
212
×

Sebarkan artikel ini
Crossway Wae Musur Roboh Diterjang Banjir, Akses Tiga Desa dan Jalur Lintas Kabupaten Terputus(Dok. Istimewa)

FAJAR FLORES – Crossway Wae Musur yang berada di Desa Nangalanang, Kabupaten Manggarai Timur, roboh akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Tingginya debit air Sungai Wae Musur yang berasal dari kiriman hulu membuat bangunan penghubung itu tidak mampu menahan derasnya arus banjir.

Pantauan di lokasi menunjukkan struktur crossway ambles dan tergerus air. Meski kondisi sangat berbahaya, sejumlah warga terlihat nekat menyeberang dengan berjalan kaki sambil menuntun kendaraan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi terjadinya kecelakaan dan korban jiwa.

Warga setempat, Gunantara, menjelaskan bahwa crossway Wae Musur merupakan akses vital yang setiap hari digunakan masyarakat dari tiga desa di seberang Sungai Wae Musur, yakni Desa Bea Ngencung, Desa Lidi, dan Desa Satar Lenda.

“Sejak roboh, aktivitas masyarakat dari tiga desa lumpuh total. Ini satu-satunya jalur penghubung. Aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga akses layanan kesehatan sangat terganggu,” ungkap Gunantara.

Selain melayani kebutuhan warga lokal, crossway Wae Musur juga merupakan bagian dari jalur lintas selatan yang menghubungkan Kabupaten Manggarai Timur dengan Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Terputusnya akses ini berdampak luas karena menghambat mobilitas antarwilayah serta distribusi barang dan jasa.

Respon Cepat BPBD Manggarai Timur

Sebagai tindak lanjut awal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan pendataan dampak kerusakan.

Sekretaris BPBD Manggarai Timur, Sil Agung Selamat, mengatakan pihaknya masih melakukan pemantauan di lapangan.
“Tabe leso ite. Pegawai dari BPBD masih berada di lokasi. Saya masih menunggu hasil pantauan dari teman-teman di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa proses administrasi juga sedang berjalan.
“Teman-teman kantor masih berada di kantor desa menunggu laporan tertulis dari kepala desa. Kami ke lapangan karena ada informasi dari masyarakat. Tabe,” tambahnya.

Harapan Warga

Warga berharap kehadiran pemerintah daerah melalui BPBD segera diikuti dengan langkah darurat dan solusi konkret, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pembangunan jembatan sementara dinilai mendesak untuk memulihkan akses, disertai perbaikan permanen yang lebih kokoh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kami berharap pemerintah tidak tinggal diam. Ini bukan sekadar jembatan desa, tetapi jalur strategis yang menghubungkan dua kabupaten,” tegas Gunantara.***