BeritaFloresNasional

Anggaran Rp113,9 Juta Terkuras, Proyek Drainase 2025 di Tanah Rata Dinilai Tak Berdampak bagi Warga

148
×

Anggaran Rp113,9 Juta Terkuras, Proyek Drainase 2025 di Tanah Rata Dinilai Tak Berdampak bagi Warga

Sebarkan artikel ini
Anggaran Rp113,9 Juta Terkuras, Proyek Drainase 2025 di Tanah Rata Dinilai Tak Berdampak bagi Warga(Fajarflores/Ril Minggu)

FAJAR FLORES – Proyek pembangunan drainase tahun anggaran 2025 di Kelurahan Tanah Rata kembali memantik kemarahan warga. Anggaran negara senilai Rp113.996.000 yang digelontorkan melalui dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD justru dinilai tak meninggalkan dampak apa pun bagi masyarakat, selain kekecewaan.

Sorotan keras datang dari Once Rama warga Sere, yang secara terbuka menuding proyek tersebut sebagai pembangunan tanpa arah dan minim manfaat. Ia menilai drainase yang baru selesai dikerjakan itu sama sekali tidak menjawab persoalan utama warga, yakni banjir yang rutin melanda saat musim hujan.

“Ini drainase dana Pokir DPRD yang baru dikerjakan tahun 2025. Tapi tidak ada gunanya sama sekali. Bukan untuk atasi banjir, tapi kelihatannya hanya untuk cari keuntungan dan menghabiskan anggaran,” kata Once Rama dengan nada geram kepada media ini.

Menurutnya, sejak awal proyek tersebut sudah terkesan dipaksakan. Lokasi dan desain drainase dinilai tidak berbasis kajian kebutuhan riil masyarakat. Akibatnya, keberadaan drainase itu tak lebih dari bangunan fisik tanpa fungsi.

“Dari bentuk dan posisinya saja sudah kelihatan. Ini bukan solusi. Air tetap tergenang. Asas manfaatnya nol besar. Jadi untuk siapa sebenarnya proyek ini?” ujarnya.

Berdasarkan papan informasi proyek di lapangan, kegiatan tersebut berjudul Pembangunan Drainase dalam Kawasan Kumuh yang berlokasi di Kelurahan Tanah Rata. Proyek ini tercatat dengan Nomor Kontrak 17.007/PPK.FISIK/PP/DPUPR/IX/2025 bertanggal 2 September 2025, dengan sumber dana Dana Alokasi Umum (DAU).

Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh CV Putra Ronga dengan masa pelaksanaan 90 hari kalender pada Tahun Anggaran 2025. Namun yang menjadi tanda tanya besar warga, papan proyek tidak mencantumkan nama konsultan pengawas, sehingga memunculkan dugaan lemahnya kontrol dan pengawasan.

Warga pun mulai mempertanyakan proses perencanaan proyek tersebut, mulai dari tahapan perencanaan teknis, minimnya keterlibatan masyarakat, hingga transparansi pengawasan. Mereka menilai proyek ini hanya menjadi etalase pembangunan semu yang tidak menyentuh kebutuhan dasar warga.

“Kalau drainase dibangun tapi banjir tetap terjadi, lalu apa gunanya? Ini uang negara, uang rakyat. Jangan cuma bangun proyek agar anggaran terserap, sementara rakyat tetap menanggung dampaknya,” tegas Once Rama

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana proyek maupun instansi teknis terkait belum memberikan klarifikasi atau tanggapan resmi atas kritik dan tudingan warga tersebut.***