BeritaFlores

Jalan-jalan Rusak Tanpa Perhatian, Seorang Warga Manggarai Timur Serang Bupati Andreas Agas di Media Sosial

1073
×

Jalan-jalan Rusak Tanpa Perhatian, Seorang Warga Manggarai Timur Serang Bupati Andreas Agas di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Jalan-jalan Rusak Tanpa Perhatian, Seorang Warga Manggarai Timur Serang Bupati Andreas Agas di Media Sosial(Dok. Istimewa)

FAJAR FLORES – Suara kekecewaan terhadap kepemimpinan Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas terus mencuat ke permukaan. Salah satu yang paling getol disuarakan oleh akun FB, Usman Alis.

Melalui unggahan di laman media sosial facebook, Usman menyoroti ruas-ruas jalan rusak, hingga dugaan KKN pembagian proyek pada kepemimpinan Andreas.

Diawal cuitannya, Usman menyatakan masyarakat Manggarai Timur terlalu lama tunduk pada Agas Andreas. Menurutnya, sikap itu justru membuat sang bupati menjadi lupa akan kewajibannya. Misalnya, budaya kepok yang dilakukan masyarakat saat kunjungan kerja pejabat sudah berlangsung lama namun tidak pernah memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah.

Dalam unggahan tersebut, Usman menyinggung kondisi jalan di sejumlah wilayah seperti Kampung Uwu Kecamatan Lamba Leda Selatan, ruas Kampung Bok Desa Tango Molas Kecamatan Lamba Leda Timur, kampung Mbero Desa Bamo dan sejumlah wilayah lain yang menurutnya tidak layak, bahkan ada jalan rusak yang berada tidak jauh dari kediaman Bupati. Ia menilai keadaan itu mencerminkan gagalnya pembangunan infrastruktur dibawah kepemimpinan saat ini.

Tak hanya soal infrastruktur, Usman juga menyebut Manggarai Timur sebagai “zona merah” lantaran berbagai persoalan serius yang menurutnya tidak pernah ditangani secara tuntas. Ia menilai masyarakat awam mungkin tidak memahami situasinya, namun ia menyayangkan sikap sekelompok orang berpendidikan tinggi yang memilih diam.

Usman mengklaim terdapat sejumlah perkara besar dengan nilai kerugian mencapai 20 sampai 30 miliar rupiah yang menyelimuti birokrasi Manggarai Timur. Ia menuding terdapat penyalahgunaan jabatan, praktik ASN bermain proyek, serta proses lelang yang tidak sesuai SOP. Menurutnya, praktik semacam itu terjadi karena lemahnya kontrol dan pengawasan dari pimpinan daerah.

Selain itu, ia menyoroti kunjungan kerja yang dianggap hanya berisi kegiatan seremonial seperti nyanyian Lumung Tepong tanpa hasil konkret bagi masyarakat. Usman menegaskan bahwa Kabupaten Manggarai Timur bukan milik perorangan, keluarga, atau kolega pejabat, tetapi milik seluruh masyarakat yang membutuhkan perubahan nyata.

Ia berharap sisa masa jabatan Bupati digunakan untuk menepati janji-janji politik yang belum terwujud sejak periode pertama. “Gunakan otak untuk mensejahterakan rakyat, bukan untuk keluarga dan kolega Mu saja,” tegasnya.

Di akhir unggahannya, Usman menyebut dirinya tidak akan berhenti mengkritik kebijakan yang dianggap merugikan rakyat. Ia juga mengajak masyarakat Manggarai Timur agar tidak terus menjunjung budaya kepok sehingga tidak lagi menempatkan pejabat sebagai sosok yang harus dilayani. Menurutnya, pejabat berjalan di atas uang rakyat sehingga masyarakat berhak menuntut pelayanan yang seharusnya.

Usman menyampaikan keprihatinannya atas hilangnya nilai-nilai moral dalam birokrasi, serta menyerukan kesadaran kolektif agar pemerintah benar-benar bekerja untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Manggarai Timur.

Namun, unggahan Usman ditantang beberapa pengguna akun FB. Akun Beta Flores misalnya meminta Usman menggunakan bahasa yang beretika.

“Kasian sekali bahasaMu ade… Ini bapa bupati punya hati nurani dan martabatnya… Bp bupati bukan anak kecil lagi, apalagi sebagai pejabat nomor 1 di matim ini.. Tolong kalau mau komentar atau kritikan yg sopan dan santun dikit… Tabe,” tulisnya.

Akun lain, Rafael Nuu beberapa kali memposting pernyataan Usman dan caption meminta yang bersangkutan mengedepankan etika. “Om Usman sudah kelewatan om, saran saya kalau mau minta sesuatu itu ada jalurnya bukan tebar fitnah di media..stop om” tulisnya.

Meskipun dihantam berbagai kritikan, Usman tetap memposting berbagai kejanggalan yang menurutnya bersumber dari kepemimpinan yang tidak becus mengurus rakyat yang dipimpinnya. Lalu bagaimana sikap warga Matim pada umumnya??.***