FAJAR FLORES – Ketua Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Marten Roga Ate, memberikan pernyataan tegas dan penuh tekanan moral dalam wawancara bersama fajarflores.com, Selasa (2/12/2025). Saat kegiatan pelaksanaan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) ke-XI. Kegiatan ini digelar pada 28–30 November 2025 dan dipusatkan di Aula Kantor Desa Watu Kawula, Kota Tambolaka.
Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Daerah serta kehadiran Bupati SBD dalam kegiatan kaderisasi GMNI, namun di saat yang sama menegaskan bahwa perjuangan organisasi tidak boleh tunduk pada kenyamanan.
Marten menekankan bahwa menjadi kader GMNI berarti bersiap menghadapi tantangan baik sosial maupun politik demi memperjuangkan keadilan bagi rakyat kecil.
“Saya menegaskan bahwa GMNI konsisten dengan perjuangan untuk kaum marhaen, tidak peduli risiko yang dihadapi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa GMNI dan pemerintah daerah adalah mitra dalam pembangunan, namun bukan sekadar pendamping pasif. GMNI hadir sebagai kekuatan progresif yang siap menyumbang gagasan, kritik, sekaligus tenaga dalam memajukan SBD.
“GMNI bermitra kritis dengan pemerintah untuk kemajuan Sumba Barat Daya. GMNI selalu ada untuk membantu SBD. GMNI ada di berbagai bidang dan profesi. Nanti ketika kami kembali dan bersatu, kami pasti menang,” tegas Marten.
Ia juga mengungkapkan bahwa pernyataan itu disambut tepuk tangan oleh Bupati SBD.
Dalam pesannya kepada para calon anggota, Marten menuntut kedisiplinan dan keseriusan. Ia menolak keras kader yang muncul sekejap lalu menghilang.
“Berproseslah dengan baik. Ikuti tahapan. Jangan jadi kader karbitan. Jangan jadi kader PPAB yang ikut sebentar lalu hilang,” katanya menegaskan.
Ia mengingatkan bahwa kader GMNI harus kuat secara mental dan ideologis. Tanpa itu, perjuangan tidak akan bertahan dalam menghadapi berbagai tekanan.
“Mereka yang bergabung dengan GMNI harus kuat menghadapi kesulitan. SBD bisa maju jika setiap kader berdiri tegak pada prinsipnya. Kalian harus siap secara mental,” tandasnya.
Sementara itu, perwakilan PA GMNI Sumba Barat, Novri Bunga, menguatkan pernyataan Marten. Ia menegaskan bahwa GMNI bukan sekadar organisasi pendukung pemerintah, melainkan mitra kritis yang selalu memihak pada kepentingan rakyat.
“GMNI hadir sebagai mitra kritis. Ketika ada kebijakan yang tidak pro rakyat, di situlah GMNI harus bersuara,” tegas Novri.
Pernyataan para alumni GMNI ini menegaskan arah gerak organisasi: menjaga kemitraan dengan pemerintah tanpa mengorbankan fungsi kritik dan keberpihakan terhadap kaum kecil sebuah identitas yang hendak terus dipertahankan dalam setiap proses kaderisasi.***












