BeritaFloresNasional

Potret Kemiskinan di Pelosok Manggarai: Lansia Mundus Hidup Sendiri di Rumah Hampir Roboh

74
×

Potret Kemiskinan di Pelosok Manggarai: Lansia Mundus Hidup Sendiri di Rumah Hampir Roboh

Sebarkan artikel ini
Potret Kemiskinan di Pelosok Manggarai: Lansia Mundus Hidup Sendiri di Rumah Hampir Roboh(Fajarflores/Ril Minggu)

FAJAR FLORES – Di balik perbukitan terpencil Kampung Lenteng, Desa Bangka Dese, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, seorang lansia bernama Hermundus Radas harus bertahan hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Pria yang akrab disapa Mundus (64) itu menjalani hari-harinya seorang diri di sebuah gubuk reot berukuran sekitar 2×3 meter, bangunan sederhana yang berdiri di atas tanah umum milik kampung.

Akses menuju perkampungan tersebut tergolong sulit dan jauh dari keramaian. Kondisi itu membuat kehidupan Mundus nyaris luput dari perhatian banyak pihak. Gubuk yang ditempatinya berdinding bilik bambu, beratapkan seng tua, dan sebagian besar sudah lapuk dimakan usia. Satu ruangan sempit menjadi tempat tidur sekaligus ruang aktivitas, sementara dapur kecil di bagian belakang hanya beralaskan tanah.

Pada Jumat (12/12/2025) secercah harapan datang menghampiri Mundus. Seorang anggota Polres Manggarai, BRIPKA Herybertus Tena, menyambangi kediaman lansia tersebut. Kunjungan itu disambut dengan senyum dan tawa sederhana dari Mundus, yang mengaku jarang didatangi orang dari luar kampung.

BRIPKA Hery Tena mengaku terenyuh melihat langsung kondisi kehidupan Mundus. Selain berbincang, ia juga menyerahkan bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan.

“Bantuan ini mungkin tidak seberapa, tetapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban hidup Bapak Mundus, terutama untuk kebutuhan makan sehari-hari,” ujar BRIPKA Hery Tena.

Tak hanya itu, BRIPKA Hery juga berinisiatif membuka penggalangan dana melalui platform KitaBisa.com, dengan harapan mengetuk nurani masyarakat luas agar turut membantu memperbaiki kehidupan lansia tersebut.

Dalam pantauan media, kondisi tempat tinggal Mundus memang sangat memprihatinkan. Ia tidur beralaskan tikar kecil dan kasur usang, sementara pakaian-pakaian lama tampak menumpuk di sudut ruangan. Ketika hujan turun, air kerap merembes dari atap yang bocor, memaksanya menyiapkan ember dan peralatan seadanya agar air tidak menggenangi rumah.

“Kalau hujan deras sekali, saya tidak bisa tidur. Hanya berdoa supaya hujan cepat reda,” tutur Mundus dengan mata berkaca-kaca.

Untuk memasak, Mundus masih menggunakan tungku kayu bakar, tanpa kompor atau peralatan dapur memadai. Bahan makanan sehari-hari ia peroleh dari kebun atau dari uluran tangan tetangga yang membantu semampunya.

“Kadang ada tetangga kasih beras. Kalau sudah tidak ada beras, saya makan sayur saja,” ucapnya lirih.

Kisah hidup Mundus mencerminkan potret kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di pelosok negeri. Di usia senja, ia belum sepenuhnya merasakan makna keadilan sosial, sebagaimana tertuang dalam sila kelima Pancasila.

Namun, dari raut wajahnya saat menerima kunjungan dan bantuan, terpancar secercah harapan baru. Senyum sederhana itu seolah menjadi simbol bahwa perhatian kecil dan kepedulian sesama masih mampu memberi arti besar bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.***